Titik Nol Kilometer Tangsel

Home / Blog

Oleh Fahd Pahdepie*

 

Usai Ngopi Sewarung bersama budayawan Uten Sutendy hari Sabtu lalu (31/8), saya sedikit meminta waktu untuk menyerahkan sebuah lukisan karya Yayat Lesmana sebagai hadiah untuk Mr. Ten. Lukisan itu diberi judul ‘Anak-anak Baduy’, menggambarkan tiga anak muda Baduy yang gamang melihat masa depan, sambil terus memegang teguh tradisi, sementara dunia angka dan aksara seolah meneror mereka dengan kemajuan dan percepatan-percepatan zaman.

Ketika pertama kali melihat lukisan ini minggu lalu di galeri milik pelukis Yayat, saya langsung ingat sosok Kang Uten, putera Banten yang gelisah di tengah geliat zaman. Paling tidak, kesan itu yang saya tangkap dari bukunya yang berjudul ‘Si Jaun dari Baduy’. Kegelisahan yang sama saya tangkap dari tokoh budaya yang lain, Djani bin Mursin alias Bang Djay, tokoh Betawi yang berusaha memegang teguh tradisi tetapi tak mau kehilangan relevansi di tengah zaman yang cepat bergerak ini.

Bang Djay pergi ke mana-mana menggunakan peci merah dan menggantungkan sarung di lehernya. Dua simbol yang lebih dari cukup untuk mengatakan kepada dunia, ‘Gua Betawi’. Sebagai anak muda kreatif, ia memproduksi Bir Peletok yang terus dikampanyekan sebagai minuman khas Tangsel. Ia tak mau Betawi menjadi kurang relevan di kota ini, ia terus berjuang untuk itu.

Di waktu yang sama, kita mulai melihat kelompok-kelompok etnis dan budaya lain juga berusaha memberi tahu kita tentang signifikansi mereka di Tangsel. Ada kelompok masyarakat Jawa yang mendeklarasikan sebuah paguyuban, konon jumlah mereka hampir 62% di kota ini. Ada pula kelompok etnis Sunda, Minang, bahkan Flores. Pertanyaan saya, di tengah zaman yang melesat ke masa depan, bagaimana kita meletakkan ihwal etnisitas ini? Masih relevankah slogan ‘putera daerah’ di kota semacam Tangsel?

 

Mambaca manusia Tangsel

Erich Fromm dalam bukunya berjudul ‘Escape from Freedom’ (1941) mengemukakan bahwa salah satu kebutuhan dasar manusia adalah menjadi bagian dari sesuatu dan sekaligus menjadi otonom. Kebutuhan ini, menurut Fromm, bisa kita baca melalui setidaknya empat konsep: Keberakaran (rootedness), keterhubungan (relatedness), peran (significancy), dan identitas (identity).

Asal etnis bagi saya hanya salah satu bagian saja untuk mendefinisikan manusia Tangsel. Jika kita pakai cara baca Fromm, ia hanya mewakili unsur keberakaran, dari mana seseorang berasal. Boleh jadi orang berakar ke etnis dan budaya Sunda, Betawi, Jawa, atau lainnya. Tetapi orang tak bisa sekadar didefinisikan berdasarkan etnis atau akar budaya yang dipegangnya. Apalagi, hampir sulit hari ini kita menemukan orang dengan genealogi yang murni, orang Jawa bisa ada Minangnya, orang Papua bisa jadi ada Bugisnya, dan seterusnya.

Tangsel adalah sebuah ‘melting pot’, ruang perjumpaan di mana banyak orang dari berbagai akar etnis dan budaya tadi bertemu. Maka yang lebih menarik untuk dibahas di kota ini adalah kesalingterhubungan antar mereka, Fromm menyebutnya ‘relatedness’. Saya bisa saja beretnis Sunda, tetapi karena menyukai silat, saya bisa terhubung (relate) dengan Bang Djay yang orang Betawi. Di kota ini, kita bisa dihubungkan oleh banyak hal: Sama-sama pecinta kopi, sama-sama ingin memberdayaakan anak muda, bahkan sama-sama penggemar Persita.

Dengan relasi yang lebih relevan pada kehidupan kita sehari-hari, maka setiap kita bisa dilihat berdasarkan signifikansi kita di tengah komunitas dan masyarakat kota ini. Orang dinilai berdasarkan apa yang telah ia kerjakan dan sumbangkan. Kalau ada orang Gorontalo yang sukses dan membuka banyak lapangan pekerjaan di Tangsel, ia menjadi ‘orang Tangsel’ karena signifikansinya itu.

Dengan pemahaman semacam inilah, saya kira, kita mulai bisa mendefinisikan manusia Tangsel. Jika Tangsel kita pahami sebagai sebuah identitas, maka orang Tangsel bisa siapa saja terlepas apapun etnisnya, dari manapun dan ke manapun ia berakar. Selama ia memiliki keterhubungan dengan kota ini, berperan dan menyumbangkan sesuatu untuk kota ini, maka ia bisa memiliki identitas sebagai ‘orang Tangsel’. Ia bebas menjadi manusia Tangsel.

 

Bersatu di ruang publik  

Setiap orang membutuhkan titik kilometer nol-nya masing-masing. Setiap orang punya hulunya masing-masing. Tetapi di Tangsel, saya kira titik kilometer nol dan hulu itu adalah rasa kebersamaan. Bahwa semua orang berhak menjadi orang Tangsel. Apapun akar etnis dan budayanya, tidak ada yang lebih istimewa di kota ini. Tak ada putera daerah di kota ini, apalagi jika mengingat dan menyadari bahwa Tangsel baru berdiri 10-11 tahun terakhir.

Saya cukup tertarik dengan cara Pemerintah Kota Tangsel membangun ikon titik nol kilometernya di Jalan Raya Maruga, Serua, Ciputat. Pemkot memutuskan membuat gardu pandang setinggi 70 meter di tempat ini, tujuannya agar semua orang bisa melihat ke berbagai penjuru kota Tangsel. Memandang dengan kesadaran yang lebih tinggi bahwa di kota ini semua orang harus dilihat dan diperlakukan dengan setara.

Saya kira, dengan cara pandang seperti itulah maka kota ini akan menjadi kota yang lebih baik, lebih maju, dan lebih sejahtera. Ketika tak ada lagi ‘siapa aku’, ‘lihat dari mana aku berasal’, dan ‘akulah yang lebih penting’. Semua orang di kota ini punya hak yang sama untuk berhasil, sukses, bahagia, dan sejahtera. Itulah yang harus menjadi visi siapapun yang memimpin kota ini.

Publik harus dididik memiliki cara pandang semacam ini, tidak lagi tercerai berai berdasarkan ‘akar’ masing-masing. Kuncinya adalah menciptakan sebanyak mungkin ruang publik dan benar-benar memfungsikannya sebagai ruang perjumpaan untuk membangun kebersamaan, memulai kerja-kerja kolaborasi. Tetapi ruang publik bukanlah sekadar tempat publik (public space) melainkan harus memiliki nuansa dan rasa sebagai ruang milik publik (public sphere).

Jika pemerintah berhasil menciptakan ruang publik semacam itu di Tangsel, termasuk menjadikan gardu pandang titik nol kilometer sebagai ruang ‘milik’ publik, maka saya kira banyak problem besar kota ini akan terselesaikan—terutama kesenjangan. Di ruang-ruang publik itulah perbedaan dirayakan, kebudayaan yang beragam hidup dengan semangat yang guyub, masyarakat dihargai berdasarkan peran dan sumbangsihnya untuk sesama.

Maka kelak tak akan ada lagi Kang Uten yang gelisah dengan kebudayaan dan kebaduyan, tak ada lagi Bang Djay yang ragu membangun relevansi sambil membawa nilai-nilai tradisi, tak perlu lagi ada kelompok yang saling membeda-bedakan satu sama lain, tak usah gelisah dengan apakah kita putera daerah atau bukan, sebab kita semua adalah manusia-manusia Tangsel—yang berdaulat dan merdeka atas diri kita masing-masing.

 

FAHD PAHDEPIE – Tangselian, Tinggal di Bintaro

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR