Tangsel Muda Mendunia

Home / Blog

Oleh Fahd Pahdepie*

 

Berapa sebenarnya jumlah persis populasi kelompok muda di Tangsel? Benarkah kelompok pemuda merupakan pemegang saham politik mayoritas di kota ini? Bisakah mereka membuat sebuah perubahan? Menjelang Pilkada 2020 mendatang, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi penting untuk kita bedah bersama-sama.

Jika kita mengacu pada pengelompokan umur pemuda berdasarkan UU No. 40 tahun 2019 (hasil revisi UU No. 40 tahun 2009), pemuda didefinisikan sebagai penduduk berusia 16-30 tahun. Pengelompokan ini sempat menimbulkan polemik, karena bias dengan kelompok usia anak yang batas akhirnya adalah 18 tahun. Sementara itu, menurut WHO, pemuda merupakan mereka yang berada di rentang usia 18-65 tahun. Rentang yang dianggap terlalu lebar.

Menurut saya, kita bisa menggunakan ‘common sense’ untuk membuat pengelompokan yang lebih masuk akal mengenai anak muda, terutama dalam konteks politik. Kita bisa menggunakan dua batas terendah dan tertinggi, yakni batas usia pemilih pemula (17 tahun) dan batas usia pensiun dini ASN (45 tahun). Dengan menggunakan dua batas bawah dan batas atas itu, kita akan memiliki basis argumen yang cukup memadai untuk mengatakan bahwa pemuda adalah mereka yang berusia 17-45 tahun.

Lantas, berapakah jumlah penduduk berusia 17-45 tahun di Tangsel? Berdasarkan laporan terakhir BPS (Tangerang Selatan dalam Angka, 2019), bila dibandingkan dengan jumlah populasi penduduk, kelompok usia ini berjumlah 50,61%. Jika definisi WHO yang kita pakai, jumlahnya lebih besar, yakni 66,70%. Dengan dua data ini, bisa kita katakan bahwa mayoritas penduduk Tangsel memang anak muda.

Selain usia kota ini yang masih sangat muda, 11 tahun, mayoritas penduduknya juga anak muda. Bagi saya, Tangsel lebih dari layak untuk kita sebut sebagai kotanya anak muda!

 

Saham elektoral

Jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) terakhir yang dipakai dalam Pilpres 2019 oleh KPUD Tangsel adalah 948.571 pemilih. Jika kita bandingkan dengan data pemilih berusia 17-45 tahun yang berjumlah 832.616 orang, maka saham elektoral anak muda di kota ini mencapai 87,7%. Sebuah angka yang fantastis, jauh di atas rata-rata saham elektoral anak muda di berbagai wilayah lain di Indonesia yang hanya berkisar 60% saja.

Dengan saham eketoral sebesar itu, saya melihat bahwa keterlibatan anak muda kota ini dalam politik adalah sebuah keniscayaan. Kelompok inilah yang harus memegang kendali utama arah kota ini kedepan. Jika mereka tidak mau terlibat dalam politik, apatis terhadap proses-proses demokrasi yang berlaku, maka tidak akan ada perubahan berarti yang digerakkan anak mudanya.

Budaya politik yang kuno dan kolot, yang bersifat transaksional dan tidak terbuka, harus kita ubah bersama-sama. Kita punya cukup waktu dan kekuatan untuk memaksa perubahan ini benar-benar terjadi. Syaratnya, anak muda harus terlibat. Turun ke gelanggang dan berkolaborasi memulai kerja-kerja perubahan ini.

Teknologi digital yang digerakkan anak muda terbukti telah mendisrupsi dunia industri di berbagai belahan bumi. Millenials kill everything, kaum milenial telah membunuh para raksasa kuno yang bercokol lama di puncak-puncak peradaban. Di Indonesia, Go-Jek merevolusi industri transportasi, Traveloka merusak pasar penjualan tiket pesawat dan reservasi hotel, Bukalapak dan Tokopedia membuat gerai-gerai di pusat perbelanjaan tradisional menjadi sepi, dan berbagai produk fintech seperti OVO dan Paytren mengubah budaya bertransaksi masyarakat kita menjadi cashless.

Disrupsi seperti apa yang akan dibawa anak muda ke dalam dunia politik? Ini yang masih ditunggu banyak orang. Hanya tinggal menunggu waktu anak muda akan merevolusi budaya politik bangsa ini, dengan caranya sendiri. Jika kampanye saja sekarang sudah berubah drastis, berpindah dari lapangan ke halaman-halaman media sosial, anak muda sudah membuat kampanye dengan menggunakan media luar ruang seperti spanduk dan baliho jadi tidak menarik dan sangat ketinggalan zaman.

Lantas, bisakah perubahan itu terjadi tidak di wilayah kampanye belaka? Tetapi terus merangsek ke wilayah yang lebih penting dan strategis, termasuk proses-proses politik dan lobi, hingga kelak di saat pemilihan langsung. Apakah anak muda masih tergoda politik uang? Atau mereka mengingkan hal lainnya?

 

Kesempatan sejarah

Menjelang pemilihan walikota Tangsel 2020 mendatang, saya melihat sebuah kesempatan anak-anak muda kota ini untuk membuat sejarahnya sendiri. Tangsel bisa menjadi ruang yang sangat baik untuk membuktikan tesis ‘disrupsi politik’ yang masih ditunggu banyak orang tadi. Kota ini bisa menjadi ‘laboratorium’ sekaligus ‘battlefield’ bagi anak muda untuk menguji nyali, daya tarung, dan nalar kreatif politiknya.

Kuncinya satu, anak muda harus mau terlibat dan menceburkan diri ke dalam proses-prosesnya. Jangan biarkan arena pertarungan politik kota ini hanya dikuasai kelompok tua dan pemodal lama saja. Anak muda lintas komunitas dan lintas bidang harus berkolaborasi menciptakan satu ruang sejarah baru untuk mengubah keadaan.

Siapa saja yang harus terlibat? Jika kita memakai teori Gramsci tentang blok kesejarahan (historical bloc), kita bisa membuat blok kesejarahan anak muda di kota ini dengan mengkolaborasikan tiga kelompok. Pertama, the intellectuals, mereka yang menguasa ruang-ruang konsep gagasan. Akademisi, peneliti, penulis, seniman, musisi, dan kelompok kreatif lain adalah mereka yang mewakili kelompok ini.

Kedua, the entrepreneurs, mereka yang menguasai ruang-ruang modal. Anak-anak muda yang pengusaha, profesional, pelaku bisnis, harus bersatu mewakili kelompok ini dan menjadi penyokong kelompok pertama. Dan ketiga, the activists, mereka yang berada di ruang-ruang politik, mulai dari aktivis gerakan mahasiswa, fungsionaris partai, hingga anggota legislatif yang mewakili kelompok muda harus bersatu menjadi penjuru gerakan ini.

Saya kira, jika kita berhasil mengkolaborasikan tiga kelompok anak muda ini, maka disrupsi politik itu bukan sebuah imajinasi belaka. Dalam waktu dekat itu akan terjadi di kota ini. Tak ada yang bisa menghentikan kekuatan sebuah ide yang waktunya telah tiba, kata Victor Hugo.

Saya ingin menantang anak-anak muda Tangsel untuk membuktikan tesis ini. Saya bersedia menjadi kolaborator bagi anak-anak muda yang percaya bahwa perubahan dan ‘disrupsi’ ini bisa kita kerjakan bersama. Bila anak-anak muda di Tunisia dan Mesir pernah membuat sejarah ‘The Arab Spring’ yang digerakkan melalui Twitter, bila anak-anak muda di Hong Kong pernah mengerjakan revolusi payung kuning (The Umbrella Revolution), saya kira kita juga bisa membuat sejarah berskala dunia dari kota ini… Bahwa kelompok anak muda di Tangsel bisa membuat sebuah perubahan besar yang tak terelakkan.

Kelak kita semua akan mengenang satu hal, Tangsel adalah ibukota anak muda negeri ini. Cukup kita bergerak dengan satu semangat: muda mendunia. Bila Anda percaya, maka bersiaplah, badai akan datang. The storm is coming!

 

FAHD PAHDEPIEAnak muda, bakal calon walikota Tangerang Selatan

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR