Surat Terbuka untuk Ibu Airin

Home / Blog

Oleh Fahd Pahdepie*

Ibu Airin yang baik, terima kasih telah menyempatkan membaca surat sederhana ini. Semoga Ibu selalu sehat, bahagia serta berada dalam rahmat dan lindungan Allah SWT. Surat ini barangkali bukan yang pertama dikirimkan warga Tangsel kepada Ibu, namun izinkan saya menambahi satu lagi. Semoga Ibu Walikota berkenan.

Pertama-tama, perkenalkan nama saya Fahd Pahdepie. Warga Tangsel yang turut menjadi saksi perjuangan Ibu sejak hari pertama memimpin kota ini. Saya ingin mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya pada kerja-kerja besar yang telah Ibu lakukan dalam membangun dan memajukan kota yang kita cintai bersama ini. Hasilnya terasa nyata dan signifikan.

Barangkali tidak berlebihan jika saya katakan kota ini telah berubah drastis dalam 9 tahun terakhir—selama periode kepemimpinan Ibu Airin dan Pak Benyamin. Gedung-gedung megah berdiri, rumah sakit dan universitas, jalan-jalan besar, infrastruktur dan fasilitas publik penyangga kota terus digenjot pembangunannya. Di saat yang sama, Pemerintah Kota juga kerap mendapatkan penghargaan penting di level ragional maupun nasional, prestasi yang patut kita banggakan bersama.

Contohnya dalam hal pertumbuhan ekonomi, menurut data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, Tangsel merupakan salah satu dari sedikit sekali kota di Indonesia yang ekonominya tumbuh hingga 7,43%. Pertumbuhan ini juga tak melepaskan diri dari terus meningkatnya angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Di Provinsi Banten, IPM Tangsel merupakan yang tertinggi, mencapai 80,84 poin. Ini menjadi indikator bahwa tingkat pendidikan, kualitas kesehatan, serta level kesejahteraan masyarakat Tangsel relatif tinggi.

Namun, Bu Airin, izinkan saya memberikan perspektif lain. Terlepas dari tingginya angka absolut pertumbuhan ekonomi dan IPM Tangsel, masih ada PR serius yang harus kita kerjakan bersama. Jika kita masuk pada pembacaan yang lebih dalam, Tangsel masih menyisakan persoalan kesenjangan sosial yang memiriskan hati kita semua.

 

Masalah kesenjangan

Jika kita berjalan-jalan dari Bintaro ke Ciputat, lewat Pondok Aren. Atau dari BSD City ke Muncul, lewat Pasar Serpong. Juga dari Ciater, lewat Balai Kota, ke Reni Jaya… Kita akan menyaksikan secara langsung problem kesenjangan kota ini. Kita seperti diperlihatkan dua wajah Tangsel yang berbeda, keteraturan dan ketidakteraturan, kemewahan dan kekumuhan, rasa bangga dan rasa malu.

Bu Airin, kota ini memiliki masalah serius dalam hal pemerataan pembangunan. Satu wilayah rasanya sudah berada di masa depan, tetapi pembangunan di wilayah lain rasanya masih tertinggal dengan jarak hampir 20 tahun.

Bahwa pembangunan masih terus berjalan dan pemerataan merupakan target jangka panjang pemerintah kota, memang bisa dimaklumi. Tetapi jangan sampai muncul stigma bahwa percepatan pembangunan hanya dikerjakan oleh pihak swasta belaka, sementara pemerintah gagap dalam mengimbangi kecepatannya.

Tugas pemerintah adalah mengerjakan pembangunan yang berpihak pada kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat, agar adil dan merata. Jika swasta melakukan kerja-kerja pembangunan berdasarkan orientasi profit, pemerintah harus melepaskan diri dari fikiran semacam itu dan memastikan tidak ada masyarakat yang merasa didiskriminasi dan termarjinalkan.

Masalahnya, di Tangsel kita masih melihat disparitas semacam ini. Di kota ini terdapat perumahan-perumahan megah, tetapi di balik dinding yang menjadi benteng bagi rumah-rumah yang mewah itu masih banyak pula bangunan kumuh bahkan gubuk reyot. Di kota ini dengan mudah bisa kita temukan mobil sport paling mahal, tetapi manusia gerobak juga berkeliaran di mana-mana. Di kota ini terdapat orang-orang kaya yang sukses, tetapi banyak pula pengangguran yang merasa belum berdaya atau terberdayakan. Kita harus bekerjasama untuk mengubah keadaan ini, agar pesatnya pembangunan tidak meninggalkan luka dan rasa kalah pada sebagian warga Tangsel.

 

Menggenjot UMKM

Dari mana memulainya? Bu Airin yang baik, dari banyak kemungkinan dan konsep yang bisa kita turunkan ke level teknis. Saya ingin menawarkan sebuah pendekatan sederhana yang barangkali bisa kita kerjakan bersama-sama. Tangsel butuh sebuah program unggulan baru yang bisa menyelesaikan masalah disparitas tadi. Jika Kabupaten Banyuwangi bisa melakukannya dengan menggenjot sektor Pariwisata, Bandung melalui industri kreatif, saya kira Tangsel bisa melakukannya melalui pemberdayaan usaha mikro atau UMKM.

Saya kira karakteristik dan modal sosial yang dimiliki Tangsel lebih dari cukup untuk menjadi kota pertama yang berhasil melakukan revolusi sosial melalui pembenahan UMKM. Jika Ibu berhasil melakukan ini, ia bukan hanya menjadi solusi dalam mengatasi disparitas sosial yang saya ceritakan tadi, tetapi sekaligus akan menjadi ‘legacy’ di akhir masa kepemimpinan Ibu sebagai walikota.

Dari total 795.582 angkatan kerja di Tangsel, 95,3% atau 758.440 orang sudah terserap oleh lapangan kerja yang tersedia. Terdapat sekitar 4,67% atau sekitar 37.142 orang yang masih menganggur. Secara statistik, angka itu barangkali kecil. Tetapi di lapangan, hampir 40.000 orang yang menganggur adalah persoalan yang sangat serius! Seandainya terbuka 5.000 usaha kecil baru, yang rata-rata menyerap 10 karyawan, masalah itu akan bisa kita atasi.

Bukan hanya penyerapan tenaga kerja, tumbuhnya UMKM lokal juga akan mendorong konsumsi masyarakat. Sirkulasi ekonomi terjadi di dalam kota ini sendiri dan akan menciptakan kelas ekonomi baru yang lebih berdaya. Dari sinilah jarak kesenjangan akan mulai bisa kita pangkas. Dengan menciptakan pengusaha-pengusaha baru yang menggerakkan perekonomian lokal.

Jika melihat jumlah usia produktif yang bisa lebih berdaya dan menggerakkan perekonomian Tangsel, ada sekitar 1.284.952 orang yang bisa didorong untuk berkarya. Artinya kota ini memiliki potensi SDM produktif sebesar 78,1% dari jumlah populasinya. Kuat sekali. Namun, sayangnya angka keterserapan kerjanya masih sekitar 61,92%. Masih ada sekitar 17,8% orang yang bisa digerakkan—yang selama ini teridentifikasi sebagai pelajar dan mashasiswa, ibu rumah tangga, dan lainnya.

Modal utama Tangsel untuk menjadi kota dengan pertumbuhan dan pembangunan yang memiliki prestasi terbaik di Indonesia saya kira ada pada manusianya. Maka kunci pemerataan dan penyelesaian masalah kesejahteraan sosialnya pun ada pada manusianya.

Tangsel tak memiliki keindahan alam yang bisa menyaingi daerah lain untuk menggenjot pariwisata sehingga punya ‘trickle down effect’ untuk ekosob, kota ini juga tak cocok dijadikan kota Industri manufaktur, masih banyak PR yang harus dikerjakan untuk jadi kota destinasi pendidikan. Tapi, saya kira, Tangsel bisa menjadi yang paling unggul melalui sektor UMKM dengan berbagai ragamnya—mulai dari makanan sampai fashion, dari inovasi teknologi sampai kerajinan dan kesenian.

Akhirnya, Bu Airin yang baik, inilah saatnya ibu meninggalkan sebuah warisan besar yang akan dikenang. Mewujudkan kota yang lebih maju, sejahtera dan berkeadilan. Kita bisa mengerjakannya bersama-sama. Saya kira, banyak pihak yang siap dan bersedia untuk berkolaborasi mewujudkan visi ini.

 

Salam baik.

FAHD PAHDEPIE Warga Tangsel, Staf Ahli Presiden RI

 

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR