Sapi Kurban di Tengah Jalan Raya

Home / Blog

Di malam takbiran menjelang Idul Adha, warga Pamulang, Tangerang Selatan, mendadak heboh karena seekor sapi lepas di Jalan Raya Siliwangi (11/8). Sapi itu melintas di depan RS Vitalaya, mengimbangi laju motor dan mobil yang mendadak melambat. Beberapa warga tampak memfoto dan memvideokan kejadian unik tersebut. Sementara sapi itu berjalan limbung, panik melihat sorot lampu kendaraan, bunyi klakson, juga warga yang riuh.

Berkat jurnalisme warga dan kecepatan percakapan sosial media, video itu pun segera tiba di layar telepon pintar kita, hanya dalam hitungan menit atau jam saja. Saat saya menulis artikel ini, atau ketika Anda membacanya, sapi tersebut tentu sudah diamankan. Bahkan mungkin sudah mati, disembelih untuk keperluan qurban hari ini.

Lalu, apa pentingnya membahas sapi qurban yang kabur dan membuat kekacauan di jalan raya? Ada dua hal yang ingin saya bahas dalam catatan ringan ini. Pertama, tentang absurdnya masyarakat modern ‘merayakan’ momen Idul Adha. Kedua, tentang betapa dangkalnya pemaknaan masyarakat kita terhadap ‘qurban’ itu sendiri.

Sapi qurban yang lepas di tengah jalan raya barangkali bukan hal istimewa. Kejadian ini lazim terjadi. Seperti banyak cerita sapi, kambing atau kerbau kabur ke dalam masjid, ke pemukiman warga, bahkan ke halaman sekolah. Tetapi jika kita lihat lebih dalam, sapi yang lepas di jalan raya adalah gambaran betapa berantakannya masyarakat perkotaan mengatur momen Idul Adha yang padahal terus ada setiap tahunnya.

Hewan-hewan qurban yang dijual dengan cara ‘dipajang’ di pinggir jalan jelas hanya mengedepankan tradisi jual beli yang bersifat musiman. Satu-satunya hukum pasar yang dipakai adalah ‘ketersediaan’. Karena permintaan (demand) tinggi menjelang Hari Raya Qurban, maka ‘supply’ didekatkan dengan pasar agar terjadi proses yang cepat dan segera menguntungkan. Bagi penjual, yang penting untung. Bagi pembeli, yang penting kebutuhannya terpenuhi secara mudah dan cepat.

Masalahnya, pasar hewan qurban di pinggir jalan ini membawa banyak ‘madharat’. Dari aspek kebersihan dan kesehatan lingkungan, kotoran dan bau hewan qurban ini sangat mengganggu dan tidak higienis. Dalam skala yang lebih serius, ia bisa menjadi sumber penyakit. Dari aspek ketertiban dan keindahan, pasar-pasar hewan qurban ini juga bermasalah. Menyusul kasus sapi yang lepas ke jalan raya, kita juga perlu memikirkan secara serius aspek keamanannya. Di kota-kota modern dunia, hewan ternak yang lepas di jalan raya adalah sebuah masalah serius!

Lantas siapa yang harus bertanggung jawab? Saya kira ini tanggung jawab semua pihak. Pelaku bisnis hewan qurban punya hak untuk mendapatkan keuntungan sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat yang ingin berqurban di Hari Raya Idul Adha. Tetapi keduanya perlu memahami bahwa kepentingan mereka tak bisa mengganggu ketertiban umum, apalagi sampai menimbulkan masalah yang merugikan masyarakat yang lebih luas, misalnya pencemaran lingkungan dan bahaya penyakit.

Di sinilah pentingnya pemerintah kota punya regulasi yang tepat untuk perkara yang pasti ada saban tahun ini. Memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan yang tak mengganggu pelaksanaan ibadah qurban, tetapi sekaligus maslahat untuk semua pihak.

Namun, terpenting masyarakat juga perlu difahamkan bahwa qurban bukan sekadar tentang membeli dan menyembelih binatang ternak di satu waktu belaka. Bukan semata perayaan tahunan yang mengharuskan mereka yang mampu agar membagi-bagikan daging kepada mereka yang miskin. Qurban harus menjadi simbol solidaritas yang sesungguhnya, bahwa kepedulian dan empati terhadap mereka yang membutuhkan harus selalu ada sepanjang waktu.

Jika kita bisa membentuk solidaritas masyarakat semacam itu, maka banyak masalah kota bisa kita selesaikan bersama. Tembok imajiner yang memisahkan si kaya dan si miskin akan bisa kita bongkar, lalu di sana kita membangun kepedulian, memulai kebersamaan, dan berkolaborasi dengan rasa empati yang tinggi terhadap satu sama lain. Dengan prinsip semacam itulah semestinya qurban diselenggarakan, bukan sekadar peristiwa insidental atau upacara seremonial tahunan yang sepi dari makna.

Di tengah kemajuan kota yang gegap gempita, di tengah segala akselerasi pembangunannya, kita tak ingin warga kota menjadi seperti sapi yang limbung di tengah jalan raya. Kita tak mau mereka yang kaya hanya menjadi penonton yang heboh dan riuh melihat warga miskin yang kebingungan di tengah lampu-lampu kendaraan yang angkuh, klakson yang sombong, lampu jalan yang sinis, atau gedung-gedung tinggi yang mengintimidasi.

Qurban tahun ini harus lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Menjadi sebuah kerja solidaritas untuk meneguhkan spiritualitas. Menjangkau yang jauh demi menemukan cinta yang dekat. Semoga kita bisa membangun tatanan baru sembari meneladani cinta dan perjuangan Nabi Ibrahim AS, dengan hati dan kesalehan selembut Ismail AS.

FAHD PAHDEPIE

— Penulis buku Muda Berdaya Karya Raya (2019), Co-Founder Kaukus Muda Tangsel

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR


Generic placeholder image
Bayu syafresal izdham
Keren pak fahd, maju terus, semangat...