Rumah Sembuh Untuk Orang Sakit

Home / Blog

Sebagai salah satu persyaratan mengikuti konvensi Bakal Calon Walikota Tangerang Selatan, saya harus melampirkan surat keterangan bebas narkoba. Surat tersebut perlu diurus di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tangsel.

Selasa (5/11) pagi, saya mendatangi RSUD Tangsel yang terletak di bilangan Pamulang tersebut. Ketika mobil saya memasuki area parkir, saya langsung disambut petugas berseragam ormas. Entah mengapa palang pintuk parkir elektronik tidak digunakan? Saya disodori secarik kertas tanda parkir, lalu diarahkan masuk ke dalam area parkir di depan gedung IGD.

Mobil-mobil di area parkir penuh sekali. Lintasan jalan dipakai untuk memarkir mobil, membuat akses masuk dan keluar kendaraan menjadi begitu sempit. Mobil-mobilpun diparkir seolah tanpa aturan, bikin suasana di area depan rumah sakit jadi semrawut.

Setelah bersusah payah memarkir mobil, saya pun menuju tempat pendaftaran pasien. Suasana hiruk pikuk langsung menyergap, banyak orang duduk di lantai sampai tertidur, antrean menyebar tak jelas di banyak titik, jumlah petugas yang tak sebanding dengan jumlah pasien tampak kewalahan--meski ada juga petugas yang tampak malas. Seperti sekuriti yang malah sibuk bermain handphone.

Hampir dua jam mengantre, saya pun dipanggil. Lalu diminta mengisi kertas formulir. Setelah diisi, saya kembalikan ke loket, lalu diminta menunggu lagi. Setelah sekitar 15 menit, saya dipanggil kemudian diarahkan ke kasir. Rupanya perjalanan belum selesai, karena dari kasir saya diminta kembali ke loket semula.

Setelah berbagai prosedur yang sama sekali tak efisien, saya diminta menuju ke lantai 4, poli MCU. Di sana, saya diminta menunggu lagi, untuk kemudian diberitahu bahwa saya harus ke laboratorium di lantai 5. Di sini, mekanisme antrean lebih tak jelas. Setelah menyerahkan berkas, diminta menunggu lama, ujungnya saya diminta kembali ke kasir di lantai 1 untuk membayar biaya laboratorium.

Bukankah saya sudah mengisi dan menyatakan layanan apa yang saya perlukan? Mengapa harus dibuat rumit dan lama dengan berbagai prosedur yang tidak efisien? Apakah rumah sakit ini tak memiliki sistem elektronik yang terintegrasi?

Cerita belum berakhir, saya masih perlu menunggu hasil lab selama lebih dari 1 jam. Kemudian kembali ke poli MCU. Lalu menunggu lagi hampir 1 jam untuk mendapatkan surat yang dimaksud. Total saya menghabiskan waktu hampir 5 jam di RSUD, dengan kualitas pelayanan petugas RS yang lebih banyak membuat saya menghela nafas atau mengurut dada.

Inikah potret layanan Rumah Sakit Umum Daerah? Saya yang sembuh saja, jika harus melewati semua prosedur yang rumit dan menjengkelkan semacam ini, bisa menjadi sakit. Apalagi warga yang sakit? Apakah layanan Rumah Sakit bisa memberikan mereka ketenangan, kenyamanan, dan keyakinan bahwa mereka bisa sembuh dan dilayani dengan baik?

Bagi saya rumah sakit seharusnya bukan semata tentang tersedianya tenaga medis, alat-alat kesehatan atau obat-obatan. Lebih dari itu rumah sakit harus memiliki pelayanan prima yang bisa memberikan ketenangan, kenyamanan, dan keyakinan bahwa mereka yang datang bisa sembuh dan terobati di sana. Manajemen rumah sakit menjadi penting di sini, mengatur bagaimana semua stakeholders-nya mulai dari pintu masuk sampai ruang tindakan medis memiliki perspektif melayani yang baik.

Apa yang membuat orang merasa lebih nyaman datang ke rumah sakit swasta daripada ke rumah sakit pemerintah? Jawabannya, karena pelayanannya. Sebab jika kita mengukur kualitas tenaga medis, boleh jadi paramedis yang bekerja di rumah sakit pemerintah lebih baik karena mereka diseleksi secara ketat--apalagi yang ASN. Jika melihat fasilitas, lebih sering Rumah Sakit pemerintah memiliki alat-alat terbaru yang canggih, karena proyek pengadaan alkes tak pernah berhenti, bukan?

Namun, bisakah Rumah Sakit pemerintah (meski tidak seluruhnya buruk, memang) memberikan pelayanan yang baik bagi pasien-pasiennya? Seharusnya bisa. Tinggal mentalitas dan standard kerja para pemangku kepentingan serta pekerjanya diperbaiki. Mereka tak boleh melihat pasien yang datang, yang boleh jadi dari kalangan menengah ke bawah, sebagai beban. Tetapi tanggung jawab. Karena memang tanggung jawab pemerintah memberikan layanan kesehatan dan fasilitas terbaik bagi masyarakat--apapun latar belakang mereka.

Jika mereka yang mampu bisa memilih fasilitas dan layanan dengan cara membayar lebih, pergi ke rumah sakit swasta bahka berobat ke luar negeri. Masyarakat kurang mampu tak memiliki pilihan itu; Di sanalah tugas negara untuk hadir, memberi pelayanan yang terbaik untuk mereka. Membela mereka. Bukan justru membuat mereka makin susah di tengah pilihan yang terbatas.

Barangkali, soalnya ada di nama 'rumah sakit' itu sendiri. Karena ini rumah sakit, orang yang sembuh pun bisa sakit! Karena jadi korban perasaan atau stress memikirkan biaya pengobatannya. Seharusnya rumah sakit diubah menjadi 'rumah sembuh', agar siapapun yang datang ke sana menjadi sembuh bahkan bahagia.

Jangan lupa, yang datang ke rumah sakit pun tak semuanya orang sakit. Ada di antara mereka yang datang untuk mengantar, menjenguk, melayat, atau mengurus keperluan administratif seperti pengalaman saya tadi. Perlakuan dan pelayanan kepada mereka tak bisa dipukul rata apalagi dicampuradukkan. Rumah sakit hari ini harus memiliki manajemen dan perapektif pelayanan yang paripurna. Rumah sakit bukan untuk orang sakit, tetapi untuk (membuat) orang sembuh.

Keluar dari RSUD Tangsel, saya merekam banyak peristiwa. Yang manis maupun yang miris. Di kepala saya berkecamuk banyak hal, mulai dari soal kebersihan sampai keramahan petugas yang semestinya hadir. Tepat, di sisi kiri kompleks gedung rumah sakit, saya terhenti dan tertegun, banyak sampah menumpuk di sana.

Ada banyak yang harus kita benahi di kota ini. Termasuk layanan kesehatannya. Ada yang salah dari cara kita melayani masyarakat selama ini.

FAHD PAHDEPIE

Bakal Calon Walikota Tangerang Selatan 2020-2024

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR