Politik Budaya dan Budaya Politik Tangsel

Home / Blog

Oleh Fahd Pahdepie*

Di tengah kepungan perumahan-perumahan mewah di Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, di belakang tembok tinggi sekolah Internasional dari negeri Ratu Elizabeth, sebuah padepokan silat tegak berdiri menjadi benteng terakhir yang mempertahankan nilai-nilai dan tradisi Betawi.

Yayasan Beksi Sanghiyang Putih nama padepokan itu. Asuhan Guru Besar Babe H. Go'um dan pembina Babe H. Sadeli. Di sana anak-anak dan remaja Betawi diajari 'beksi', aliran silat khas Betawi asal Kampung Dadap, Tangerang. "Bagian dari ruh Betawi adalah shalat, shalawat, silat," Kata Babe Go'um, "Di sini kami mempersiapkan generasi Tangsel masa depan yang tangguh dan berakhlakul karimah." Sambungnya.

Malam itu saya hadir di tengah-tengah sebuah atmosfer yang luar biasa. Di balik tembok-tembok tinggi Emerald Bintaro, ternyata ada sebuah permata yang tersembunyi. Di sinilah kebudayaan dijaga, dibela, dihidupkan. Malam itu anak-anak padepokan mengikuti sosialisasi pencegahan bahaya narkoba yang digelar GRANAT Tangsel. Mereka tak rela jika Tangsel berstatus zona merah narkoba, manusia-manusia budaya harus turun tangan dan terlibat mencegah dan mengubahnya.

Politik budaya

Turut hadir dalam acara itu, Asisten Daerah Tiga Kota Tangerang Selatan, H. Teddy Meiyadi. Dalam sambutannya, Pak Teddy bercerita tentang pentingnya semua pihak bekerjasama menyelesaikan berbagai problem kota ini, termasuk narkoba. Kebudayaan bisa menjadi penjurunya.

Saya banyak bersetuju dengan Pak Teddy. Pengalamannya menjadi birokrat selama lebih dari 37 tahun membuatnya menjadi sedikit orang yang mengetahui seluk-beluk kota ini, lengkap dengan seluruh drama dan dinamikanya. Benar bahwa sekecil apapun, betapun tampak tidak penting di tengah kemajuan dan riuh modernitas, kebudayaan tak boleh ditinggalkan oleh masyarakat termasuk pemerintah daerah. Karena justru banyak permasalahan timbul, termasuk narkoba, sebab kita melupakan aspek kebudayaan di dalamnya.

"Itulah yang membuat saya selalu datang pada acara-acara seperti ini. Secapek apapapun, sesibuk apapun. Karena ini sangat penting." Ujar Pak Teddy. Malam itu kami merayakan sebuah momen sakral di mana kebudayaan kembali menjadi 'statement utama' untuk mengubah 'mindset' sebuah kota. Kita bisa memulainya dari sini.

Saya ingat satu adagium: Jika politik keruh, kebudayaan yang akan menjernihkannya. Kebudayaan ini mencakup segala dimensinya, dari literasi, kriya, hingga beladiri. Bagi saya, ini berlaku dua arah: Bukan hanya politik yang harus melibatkan dan menjangkau kebudayaan. Tetapi juga kebudayaan harus mencari ruang, mengintervensi, dan terlibat dalam politik. Agar politik tak menjadi semata transaksi-transaksi atau hal-hal lainnya yang bersifat mekanistik belaka.

Kalau boleh kita menggunakan istilah 'politik budaya' sebagai sebuah cara untuk berjuang memperbaiki sesuatu di tengah masyarakat, saya membayangkan ruang-ruang kebudayaan seperti Padepokan Sanghiyang Putih menjadi pusat di mana ide-idenya bermula, dirumuskan, diujicoba, kemudian diluncurkan ke tengah masyarakat yang lebih luas.

Ruang seperti ini harus menjadi pusat yang mengawal ritme dan gerak kota ini, bukan malah dipinggirkan apalagi dipojokkan. Perhatian pemerintah kepada ruang-ruang kebudayaan semacam ini harus penuh dan tuntas, sebab di sinilah jantung masyakarakat berdenyut. Di sinilah ruh tradisi bersemayam. Maka apabila kita membayangkan tatanan masyarakat yang setia pada nilai-nilai luhur tradisi, agar tak oleng dihajar pembangunan dan kemajuan, ke sinilah segalanya mesti bermuara.

Budaya politik

Di penghujung acara, karena sedang rame-rame menjelang Pilkada, kami berdiskusi tentang betapa banalnya budaya politik kota ini. Demokarasi hanya dipahami sabagai transaksi-transaksi mendulang suara untuk memperoleh kekuasaan. Masyarakat hanya dilihat sebagai pemilih yang harus tunduk pada mekanisme yang sudah diatur oleh segelintir aktor politik.

Tentu kita semua, termasuk kami yang berdiskusi malam itu, menginginkan semua ini berubah. Politik jangan lagi transaksional, hanya tentang mahar dan berapa logistik politik yang harus dikeluarkan untuk membayar suara pemilih. Jika kita menginginkan sesuatu yang lebih baik untuk masa depan kota ini, kita perlu merevolusi budaya politiknya.

Pada mulanya demokrasi adalah tentang ide dan gagasan. Orang didorong untuk memilih sebuah ide yang direpresentasikan satu-dua figur yang dianggap paling mewakili masyarakat. Tetapi ketika sebuah masyarakat tidak memiliki ide dan gagasan, atau tidak berhasil menemukan ide dan gagasan dalam proses-proses demokrasi di dalamnya, maka politik akan menjadi semacam persuasi atau diplomasi yang menggunakan prinsip 'stick and carrot'.

Jika orang tidak berhasil digerakkan karena tak bisa diyakinkan dengan gagasan yang memadai, mereka akan dipaksa menggunakan tongkat (stick). Mereka bisa ditekan, diancam, atau diintimidasi menggunakan relasi-relasi kuasa yang represif. Narasi semacam, "Kalau mau aman, pilih A. Kalau mau selamat, pilih B." Adalah buah dari mentalitas semacam ini. Di sinilah politik praktis menjadi ruang yang relevan sekaligus nyaman bagi praktek premanisme.

Jika itu gagal, pilihan berikutnya adalah memberikan insentif (carrot, wortel). Masyarakat hanya dianggap sebagai kelinci yang dipaksa memilih dengan acaman dipukul atau diiming-imingi wortel yang tak seberapa. 'Money politics' berangkat dari logika semacam ini, calon penguasa yang hanya memperlakukan pemilih menjadi sekadar angka elektoral selevel kelinci yang bisa dibayar Rp100.000 atau Rp200.000 saja.

Budaya politik semacam itu tentu membuat ongkos demokrasi menjadi tinggi. Calon pemimpin dipaksa 'membeli' jabatannya sendiri. Maka jangan heran jika budaya politik semacam ini dipelihara, korupsi akan terus merajalela. Karena kekuasaan akan dipandang sebagai ruang untuk paling tidak mengembalikan modal politik yang telah dikeluarkan selama Pilkada.

Apakah ini tidak mungkin diubah? Tentu saja mungkin. Bahkan harus diubah. Budaya politik semacam ini tentu bisa kita runtuhkan bersama-sama, selagai kita mau dan percaya. Selagi kita punya 'mindset' yang memadai untuk setia pada setiap kerja keras yang akan kita lalui dalam proses-prosesnya.

Saya tertegun ketika mendengar nasihat Babe H. Sadeli, pendekar yang juga tokoh agama itu, di ujung percakapan kami ia berpesan, "Sebenernya, kalau kita kembali ke al-Quran, di sana udah diajarin semuanya. Yang penting jangan lepas dari itu. Berjuang dengan memegang teguh prinsip-prinsip di dalamnya." Nasihatnya.

Maka ingatlah ketika Quran mengajari kita tentang kisah Musa yang mengubah budaya politik Mesir pada zaman itu. Dulu, tak ada seorang pun yang percaya bahwa kerajaan Mesir bisa ditaklukkan. Tak ada orang yang bisa membayangkan bahwa kekuasaan Firaun bisa diruntuhkan. Tetapi Musa hanya butuh seorang Harun yang percaya bahwa dengan gagasan semua itu bisa dikerjakan!

Malam itu saya tidak hanya mendapati satu orang. Puluhan anak muda berpangsi, dengan kuda-kuda dan jurus beksi, punya modal besar untuk memulai semua perubahan ini.

Tabik!

FAHD PAHDEPIE - Anak muda yang percaya pada politik gagasan

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR