Pasar Jombang dan Wali Kecil

Home / Blog

“Buat gua simpel aja ukurannya,” Ujar Dik Doank, “Siapapun yang bisa membenahi Pasar Jombang, bukan cuma sanggup jadi walikota, tapi sekaligus wali kecil. Wali dalam kurung kota.” Selorohnya.

Pagi itu saya berkunjung ke kediaman seniman dan budayawan Dik Doank di Bintaro, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Memasuki area rumahnya, saya segera merasakan atmosfer yang berbeda: Pohon-pohon rimbun yang meneduhkan, sinar matahari yang menyelinap dari balik daun-daun, arsitektur rumah yang dikerjakan bukan hanya dengan imajinasi dan nalar—tetapi juga dengan rasa.

Sepuluh menit pertama kami mengobrol soal nama. Betapa nama bukan sekadar deretan huruf dan kombinasi kata. Betapa setiap nama merangkum semesta maknanya sendiri.

“Panggil aja Om Ganteng,” sahut Om Dik dengan senyumnya yang khas dan bersahabat, ketika saya bertanya harus memanggilnya apa. Lalu kami tertawa. Itu memang kali pertama saya bertemu langsung dengan idola masa kecil saya itu.

Semasa tinggal di pesantren dulu, lagu ‘Pulang’ milik Om Dik adalah soundtrack wajib yang kadang bikin saya menangis sambil pura-pura berwudhu. Dalam perjalanan pulang dari pesantren, sepanjang jalan di bus saya memutar lagu itu di walkman, seraya tak sabar melahap masakan ibu dan mencium tangan ayah.

Pagi itu saya banyak belajar dari sosok Dik Doank. Semacam mengaji rasa. Selama ini, ada sisi diri saya yang kesepian dan memanggil-manggil, kini seolah menemukan jawabannya. Meski baru pertama kali bertemu dengan Om Dik, saya seolah berjumpa sahabat lama. Saya menemukan banyak sekali relevansi dan konfirmasi atas hal-hal yang selama ini masih membelum. Lantas kami mengobrol dari soal masa lalu hingga masa depan, mulai dari memori sampai imajinasi, dari Palestina sampai Pasar Jombang.

Dik Doank punya kegelisahan tersendiri soal Pasar Jombang. Tentang Bagaimana pasar tradisional yang berdekatan dengan stasiun Sudimara itu memberi tahu kita banyak hal mengenai Tangsel. Betapa pemerintah selama ini gagal hadir dalam persoalan-persoalan kecil di keseharian warganya.

Jika kita ke Pasar Jombang dan stasiun Sudimara di pagi hari atau sore saat jam pulang kerja, kita akan melihat betapa absurd tempat itu dikelola. Jelasnya hilir mudik dan kepadatan orang di area itu setiap harinya, entah mengapa tak bisa menghasilkan solusi penataan area pasar yang lebih manusiawi—apalagi modern. Kios-kiosnya yang semrawut tak tertata, kondisi pasar yang becek dan kotor, sampah yang sering menumpuk, juga kemacetan yang bikin stress di perlintasan kereta, seolah menjadi potret buram wajah kota ini.

Saya tersenyum mengingat ungkapan Om Dik yang menyebut bahwa siapapun yang bisa membenahi Pasar Jombang bukan hanya pantas jadi walikota, tetapi bahkan wali kecil. Wali dalam pengertian seseorang yang memiliki level spiritualitas tertentu, punya kepekaan batin yang terasah, serta pemahaman yang baik tentang hubungan manusia, alam, dan Tuhan.

Bagi sebagian orang, barangkali ungkapan itu terdengar bercanda. Semacam ironi. Tetapi bagi saya itu merupakan pernyataan yang serius dan dalam sekali maknanya. Memang mengurusi pasar bukan semata mengurusi sebuah tempat, bukan sekadar tentang menata kios-kios atau membersihkan sampah. Lebih dari itu, menata pasar adalah tentang mengelola manusia. Mengatur semua stakeholders yang berkepentingan dengan segala aktivitas di dalamnya... Dan mengurusi manusia memang bukan perkara sederhana.

Saya ingat almarhum Kakek saya. Ia adalah seorang kiai kampung dan ikut mengurus sebuah pesantren yang dikelola keluarga besar kami, tetapi pagi sampai siang hari beliau berdagang pakaian di pasar. Saat keluarga dan murid-muridnya bertanya penuh heran mengapa ia masih perlu berjualan di pasar, Kakek saya menjawab, “Karena di sanalah akhlah manusia diuji dan manusia bisa menjadi pantas atau tidak, tergantung bagaimana ia menghadirkan dirinya dan pakaiannya di tengah pasar.”

Kata Emha Ainun Najib, pakaian adalah akhlak. Pakaian adalah sesuatu yang menjadikan manusia bukan binatang. Jika tak percaya, copotlah pakaian kita di tengah pasar. Niscaya kita akan kehilangan seluruh harkat dan martabat kita sebagai manusia. Pakaianlah yang membuat manusia menjadi manusia, karena pakaian adalah pegangan nilai, landasan moral, dan sistem nilai.

Saya kira cara pandang inilah yang harus kita pakai dalam melihat pasar. Tentang bagaimana manusia dengan segala pakaiannya, dengan segala akhlaknya, saling bertemu dan bertransaksi. Maka pertama-tama jika ingin mengelola pasar adalah merumuskan tata nilai, tata aturan, dan tata tertib bagaimana semua orang yang bertemu di sana harus bersikap. Kita harus benahi manusianya, mulai dari kepala pasar sampai petugas parkir.

Selama ini, paradigma pembenahan dan pengelolaan pasar masih bertitik berat pada pengaturan area, jalan, kios, tempat parkir, atau hal-hal lain yang bersifat benda belaka. Sementara aspek manusia sering diabaikan bahkan dilupakan. Maka jangan heran jika kita sering melihat banyak pasar yang baru dibangun atau direnovasi dengan anggaran yang begitu besar, harus berujung semrawut dan berantakan. Betapa sering pasar disidak dan dibersihkan, tak perlu lama kembali kotor dan becek, bukan?

Saya merasa selama ini kita melupakan aspek manusia dalam pengelolaan dan pembenahan pasar tradisional di Tangerang Selatan. Bangunan bisa dipercantik, jalan bisa diaspal, kios-kios bisa dibuat tampak modern, kantor pengelola pasar bisa disidak berkali-kali, tetapi selama kita tidak membangun sistem nilai bagi manusia yang berinteraksi dan bertransaksi di sana, semua itu tak akan berdampak apa-apa.

Suatu ketika di tahun 1995, saya ikut Kakek saya berjualan pakaian di kiosnya di Pasar Limbangan, Garut. Semua orang yang datang dan lewat ke kiosnya yang bersih dan rapi berjalan sambil setengah merunduk. Tak jarang mencium tangan. Waktu itu Kakek memberi saya nasihat yang tak akan saya lupakan—

“Di sini ada preman, rentenir, pencopet, sampai pedagang yang mengurangi timbangan. Mungkin kita tak bisa mengubah mereka. Tetapi kita bisa mengubah diri kita sendiri dan memberi contoh yang baik. Di kios ini tak ditempel peraturan agar dilarang mencuri, berlaku sopan atau menjaga kebersihan, tetapi di sini orang bersikap baik karena kita menjaga dan memberikan teladan. Orang mengikuti aturan yang kita buat, karena kita tidak melanggarnya. Karena kita pantas. Orang meneladani kita, karena mereka ingin diri mereka mengenakan pakaian yang baik seperti yang kita pakai.” Ujar Kakek saya.

Pulang dari rumah Om Dik, saya mampir ke Pasar Jombang. Benar, betapa semrawut pasar itu. Masih saja sampah berserakan di mana-mana. Buat saya, tempat ini bukan hanya memerlukan pembenahan, tetapi kepemimpinan dan keteladanan.

Saya berjalan memasuki lorong-lorong pasarnya… Ingatan saya terlempar ke tahun 1995, semacam nostalgia. Tetapi tak ada Kakek saya di Pasar Jombang!

 

FAHD PAHDEPIE
Bakal Calon Walikota Tangerang Selatan 2020-2024

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR