Mencari Oleh-oleh MTQ

Home / Blog

Oleh Fahd Pahdepie*

Hingga beberapa hari kedepan, 9-12 September 2019, kita akan menghadapi gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-X tingkat Kota Tangerang Selatan. Para kafilah dari berbagai kecamatan telah bersiap, diawali dengan défilé yang digelar di sepanjang Jalan Bhayangkara, Serpong Utara hari Ahad ini (8/9).

Mendengar kata MTQ, ingatan saya kembali pada pengalaman hampir 15 tahun lalu. Waktu itu saya masih mondok di Pesantren Darul Arqam Garut, kelas dua Aliyah. Itu pengalaman pertama saya mengikuti gelaran MTQ. Saya mendaftar untuk Cabang Tafsir al-Quran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Bertanding sebagai debutan, saya tidak berharap banyak. Tetapi rupanya saya berhasil masuk babak final, meski akhirnya hanya bisa menjadi juara harapan pertama. Bagi saya, bukan juaranya yang penting, pengalaman mengikuti MTQ membuka khazanah berfikir saya tentang kekayaan al-Quran.

Tahun berikutnya, tak disangka ternyata saya 'dipanggil' lagi oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) untuk mengikuti MTQ tingkat Kabupaten. Waktu itu diperkenalkan cabang baru, Musabaqah Menulis Kandungan al-Quran (M2KQ), sekarang disebut M2IQ, semacam lomba tafsir al-Quran namun dilakukan secara tertulis--untuk kemudian dipresentasikan secara lisan.

Tahun 2005, saya mengikuti lomba itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan hanya belum mengerti mekanisme lombanya, saya juga menjadi peserta termuda di cabang itu, masih 18 tahun waktu itu. Berfikir sebagai 'underdog', saya berlomba dengan pikiran yang bebas. Tetapi ternyata itulah yang membuat saya menjadi juara 3 tingkat Kabupaten.

Karena persyaratan usia, juara 1 dan 2 di MTQ Kabupaten tak bisa melanjutkan ke jenjang berikutnya di MTQ tingkat Provinsi. Maka kemudian sayalah yang diutus untuk mengikuti MTQ Tingkat Provinsi Jawa Barat di Cirebon tahun 2006. Saya 'nothing to lose' di event itu, apalagi melihat peserta yang lain sudah S2 bahkan ada yang sedang kuliah S3, saya masih SMA.

Namun, siapa sangka justru saya yang keluar sebagai juara pertama di MTQ Provinsi Jawa Barat? Makalah, presentasi, dan hafalan saya dianggap yang terbaik dibanding yang lain. Saya tahu hadiah MTQ cukup besar, tetapi mendapatkan bonus Ongkos Naik Haji (ONH) dari Gubernur pada saat itu benar-benar di luar imajinasi dan ekspektasi saya.

Saya kira, perjalanan MTQ inilah yang memperkenalkan saya dengan Tangsel. Tahun 2008 saya diutus menjadi kafilah MTQ Tingkat Nasional ke-28 di Provinsi Banten. Waktu itu saya keluar sebagai juara 1 tingkat nasional untuk cabang M2KQ, mendapatkan hadiah dan piala yang langsung diserahkan Gubernur Banten pada saat itu. Tahun itu pula saya hijrah ke Tangsel, menjadi warga provinsi Banten.

Tradisi literasi

Hari-hari ini kita akan menggelar MTQ di Tangsel. Sebagai mantan peserta MTQ dengan pengalaman yang banyak mengubah hidup pribadi, saya merasa harus ada oleh-oleh yang dibawa dari 'event' ini untuk masyarakat Tangsel. Bukan semata festival dan seremonial belaka. Bukan sekadar kegiatan yang harus diselenggarakan agar para pemenangnya bisa berlomba di level berikutnya.

Bagi saya, MTQ adalah etalase tentang bagaimana seharusnya budaya literasi digarap dan digaungkan. Bayangkan, dari sebuah buku suci bernama al-Quran, betapa banyak hal bisa diturunkan: Menjadi tilawah, cerdas cermat, makalah, hafalan, tafsir, dan seterusnya. Semua itu bahkan menggerakkan sektor ekonomi dan kebudayaan: Menjadi merchandise, bazar, panggung megah, kesenian Islami, dan lainnya. Inilah model dan potret terbaik dari bagaimana budaya literasi seharusnya difestivalisasi.

Tentu saja dengan catatan, apakah penyelenggara dan semua pihak yang terlibat memiliki visi yang sama? Sampai pada pikiran dan imajinasi semacam itu? Bahwa ini bukan sekadar ajang rutin untuk menyerap anggaran, buka semata kerja untuk mencari prestasi yang bersifat permukaan belaka--apalagi sekadar pencitraan.

Tangsel kerap menjadi juara umum MTQ di tingkat Provinsi Banten, pun Provinsi Banten sering menjadi juara umum di tingkat nasional. Pertanyaannya, apa oleh-oleh yang bisa dibawa dari semua itu selain hadiah dan piala? Selain prestasi dan selebrasi media? Bagi saya semangat MTQ harus menghidupkan dunia literasi dalam pengertiannya yang paling luas. MTQ harus menjadi inspirasi bahwa kebudayaan dan peradaban bisa bergerak karena sebuah teks yang dibaca, ditafsir, dioperasionalisasikan ke berbagai bentuk yang lain.

Jika anggaran pemerintah untuk kegiatan MTQ besar, ia harus paralel juga dengan anggaran untuk kegiatan literasi yang lain. Jika perhatian pemkot untuk gelaran MTQ terasa istimewa, semangat al-Quran tentang 'iqra' harus juga dicerminkan terhadap perhatian yang sama besar untuk aspek literasi yang lain: Sastra, riset, dan lainnya. Itulah oleh-oleh besar yang harus kita ambil dari MTQ.

Jika Provinsi Banten dikenal sebagai tempat penghasil para qari dan qariah terbaik Nusantara, para penghafal dan penafsir Quran kelas dunia, juga prestasi yang gilang-gemilang di ajang MTQ dan STQ, ada yang salah jika kemudian justru di Provinsi ini angka buta huruf masih cukup tinggi dan tradisi literasinya belum berkembang dengan baik. Bicara Tangsel, mampukah semangat al-Quran membumi di kota ini?

Sebagai individu, saya berhutang banyak pengalaman dan kenangan pada MTQ. Ajang ini telah banyak memberikan hal besar pada hidup saya, termasuk prestasi dan hadiah. Tetapi yang paling berharga adalah tradisi literasi yang tumbuh dalam diri saya, tradisi membaca dan menulis yang akan saya bawa terus sampai kapan pun saja.

Sekarang, boleh jadi saya tidak bergerak di bidang keagamaan, tak seperti alumni-alumni MTQ lainnya. Saya mengembangkan diri ke wilayah yang berbeda. Tetapi MTQ lah yang membentuk diri saya hingga seperti hari ini. Jauh sebelum saya berbicara di berbagai forum nasional dan internasional, sebelum saya diundang organisasi-organisasi besar dunia, pertama-tama saya belajar melakukan presentasi di depan para Dewan Hakim MTQ.

Barangkali sebab nasihat para dewan hakim itu kepada saya dulu, sebagaimana mereka kutip dari al-Quran, "Fantasyiruu fil ardh", "Menyebarlah kalian di muka bumi". Karena al-Quran bukan hanya untuk dibaca atau ditafsirkan, tetapi bisakah dengan bacaan dan pemahaman itu kita menjadi 'sibghah', menjadi celupan, menjadi pengaruh untuk masyarakat dan dunia yang lebih luas.

Selamat dan sukses untum MTQ ke-10 Tingkat Kota Tangerang Selatan. Selamat berlomba untuk para kafilah.


FAHD PAHDEPIE - Juara 1 M2KQ pada MTQ Nasional Tahun 2008, Peraih Australia Alumni Awards 2017. Saat ini merupakan staf ahli Presiden RI.

 

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR