Anak Muda dan Politik

Home / Blog

Oleh Fahd Pahdepie*

 

Dua hari yang lalu, 26 Oktober 2019, saya mengunjungi Gedung Indonesia Menggugat (GIM) di Bandung, Jawa Barat. Semacam napak tilas, saya ingin merasakan langsung energi perlawanan yang dikumandangkan Soekrano pada tahun 1930 di sana. Dulu gedung itu merupakan pengadilan Belanda, dikenal dengan nama Landraad Bandung, tempat Soekarno dan tiga orang rekannya diadili karena dianggap berencana menggulingkan pemerintahan Hindia-Belanda yang sah.

Soekarno bersama Gatot Mangkoepraja, Maskoen dan Soepriadinata yang tergabung dalam Partai Nasionalis Indonesia (PNI) ditangkap pada 29 Desember 1929. Pemikiran-pemikiran dan pergerakan mereka melalui PNI dianggap mengancam Hindia-Belanda. Sebelum divonis dan dijebloskan ke penjara Sukamiskin, Soekarno ditahan di Penjara Banceuy. Di sana ia menuliskan pledoi panjangnya yang terkenal, di atas ranjang reyotnya di tahanan, beralaskan bagian belakang pispot yang dijadikan tempatnya menulis… Pledoi itu kini kita kenal sebagai teks “Indonesia Menggugat”. Naskah penting yang meneguhkan identitas kita sebagai bangsa.

Berjalan memasuki gedung tua itu, saya segera merasakan atmosfer perlawanan yang kuat. Replika meja dan kursi pengadilan Belanda, tempat Soekarno muda menghadap ‘toean-toean Hakim’, ruang kecil di mana Soekarno dan tiga rekannya diinterogasi dan ditahan sementara, juga jendela besi yang menjadi saksi ketika Sang Proklamator itu membacakan pembelaannya yang menggelegar, masih di sana menjadi saksi bagaimana anak-anak muda cemerlang itu memulai sebuah pergerakan yang nyata untuk memerdekakan bangsa ini dari cengkraman kolonial.

Waktu itu usia Soekarno masih 29 tahun, Gatot Mangkoepraja masih 31 tahun, Maskoen masih 27 tahun, dan Soepriadinata masih 24 tahun. Mereka benar-benar anak-anak muda dengan nyali raksasa, meminjam istilah Soekarno dalam pembukaan GIM, “Sebenar-benarnya dagingnya daging dan darahnya darah”. Dalam catatan sejarah, merekalah yang mengimplementasikan Sumpah Pemuda yang digelar dua tahun sebelumnya, 28 Oktober 1928 di Batavia, menjadi pergerakan lapangan yang serius untuk merebut kemerdekaan Indonesia dari Belanda melalui jalan politik.

Bagi saya, jika hari ini kita masih mempertanyakan peran pemuda dalam politik, kita sungguh-sungguh telah melupakan sejarah. Dan bila kita bertanya perlukah anak muda terjun ke dalam politik praktis, alih-alih berkarya di bidang lain, sesungguhnya kita juga melupakan kerja besar Soekarno muda yang menggugat Belanda melalui jalan politik praktis. Keterlibatan anak muda dalam politik pergerakan bangsa ini adalah sebuah keniscayaan: Dulu, hari ini, dan esok.

Sumpah Pemuda mengajarkan kepada kita tentang komitmen ke-Indonesiaan. Di tahun 1928, waktu itu Indonesia masih dalam proses menjadi (being). Indonesia masih merupakan sebuah ‘komunitas yang terbayangkan’, meminjam istilah Bennedict Anderson ‘an imagined community’, yang dicita-citakan bertanah air satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Puluhan pemuda dari berbagai wilayah Nusantara yang menamakan diri Jong Java, Jong Aceh, Jong Ambon, dan lainnya membentuk satu konsensus yang disebut sebagai Sumpah Pemuda.

Namun, konsensus apapun tanpa pergerakan tak akan membawa Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaannya. Soekarno muda sadar betul tentang hal itu. Ia merasa bahwa jalan politik harus ditempuh untuk mewujudkan Indonesia yang bertanah air, berbangsa dan berbahasa satu sebagaimana dicita-citakan Sumpah Pemuda pada 1928. Untuk itulah ia menempuh jalur politik, menginspirasi ribuan pemuda lain untuk mulai bergerak dan merebut kemerdekaan. “… Politik yang menjadi sifat dan asas pergerakan kami dan yang menjadi nyawa pikiran-pikiran dan tindakan- tindakan kami.” Tulis Soekarno.

Saat ini, karena satu dan lain hal, banyak di antara kita memandang sebelah mata anak-anak muda yang terjun ke dalam politik, seolah itu merupakan sebuah kekeliruan. Seolah semestinya anak-anak muda mengerjakan hal-hal lain dulu, mewujudkan karir atau pendidikan yang mapan, sebelum terjun ke dalam politik praktis. Katika saya, misalnya, memutuskan terjun ke dalam dunia politik di usia muda, banyak yang mengingatkan, “Sayang, masih muda…” atau jelas-jelas menegur “Jangan sekarang, anak muda nanti dulu. Masih banyak yang sudah matang.” Padahal keterlibatan anak muda dalam sejarah pergerakan bangsa ini merupakan fakta yang tak tertolak.

Jika kita melihat linimasa perjalanan bangsa ini, hampir semua momentum besarnya dimulai dan digerakkan oleh anak-anak muda. Dalam perjuangan kemerdekaan di era Indonesia modern, misalnya, hampir semua peristiwa besar yang terjadi di negeri ini diprakarsai oleh anak-anak muda: Mulai dari Kebangkitan Nasional oleh Boedi Oetomo di tahun 1908, Sumpah Pemuda di tahun 1928, Indonesia Menggugat 1930, Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945, hingga reformasi 1998 yang digerakkan oleh mahasiswa. Anak-anak muda bangsa ini tak pernah lepas dari keterlibatannya dalam perjuangan politik.

Maka, jika hari-hari ini kita menyaksikan anak-anak muda terjun ke dalam politik, selain bahwa itu merupakan sebuah keniscayaan dan panggilan sejarahnya, kita juga perlu menyambut kembalinya semangat anak muda untuk ikut terlibat dalam perjuangan politik negeri ini. Di antara mereka ada yang menjadi pengurus partai politik, legislator, kepala daerah, hingga menteri. Merekalah yang akan menjadi pewaris dan penerus bangsa ini untuk menyongsong kemajuan dan kejayaannya di masa yang akan datang.

Di hari Sumpah Pemuda ini, izinkan saya mengakhiri tulisan ini dengan penggalan pidato Bung Karno yang diabadikan dalam ‘Di Bawah Bendera Revolusi’. Saya dedikasikan untuk anak-anak muda yang memilih jalur politik untuk meneruskan perjuangan para pendahulu kita memajukan negeri ini—

“Terjunlah kamu sekalian ke dalam lautan-bakti itu! Terjunlah ke dalamnya, masing-masing menurut kecakapan sendiri-sendiri, masing-masing menurut panggilan jiwa sendiri-sendiri, dengan semangat perintis yang berkobar-kobar, menyala-nyala di dalam dada, dengan api idealisme yang menyundul angkasa.

Berikanlah jiwa-ragamu dengan mutlak! Jangan setengah-setengah! Yang setengah-setengah tidak akan mendapat padi segegam, yang mutlak akan mendapat dunia. Bahwa sesuatu Bangsa yang tenggelam hanyalah dapat diangkat oleh orang-orang yang jiwanya yang terbuat dari zat petir dan zatnya guntur.

Terjunlah ke dalam lautan-bakti itu dengan jiwa yang terbuat dari zatnya petir dan zatnya guntur! Moga-moga Tuhan selalu beserta kita!”

Selamat hari Sumpah Pemuda. 28 Oktober 2019.

 

FAHD PAHDEPIE

Anak muda, bakal calon walikota Tangerang Selatan 2020-2024

Bagikan Berita Ini



KOMENTAR